MERARIK CARE SASAK

Adat nyongkolan sudah dikenal semenjak zaman kerajaan masih ada di Pulau Lombok. Nyongkolan merupakan kegiatan adat sebagai salah satu bagian dari prosesi pernikahan masyarakat Suku Sasak. Maksud dari prosesi nyongkolan ini adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan kedua pasangan mempelai kepada masyarakat sekitar.
Kegiatan nyongkolan dilakukan dengan cara mengarak kedua mempelai yang ditemani oleh seluruh kerabat, sanak saudara serta keluarga dari kedua mempelai. Dengan menggunakan pakaian adat lengklap, suluruh peserta rombongan akan berjalan dengan diringi musik tradisional. Beberapa musik tradisional yang biasa digunakan adalah seperti gendang beleq, kecimol dan tarian rudat.
Dalam arak-arak, peserta nyongkolan dari rombongan mempelai laki-laki juga membawa berbagai macam benda hasil perkebunan dan pertanian seperti buah-buahan maupun sayur-sayuran yang nantinya akan dibagikan kepada keluarga, kerabat dan tetangga dari mempelai wanitanya.
Namun tidak demikian pada kalangan tertentu seperti bangsawan. Dalam kalangan bangsawan Suku Sasak, proses upacara adat nyongkolan sedikit berbeda, tata cara dan urutan arak-arakan serta benda yang dibawa memiliki aturan tertentu. Jika anda beruntung akan menemui proses adat nyongkolan yang dilakukan oleh kalangan bangsawan Suku Sasak yang penuh dengan nuansa kesakralan.
Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta diiringi dengan Gendang beleq. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai tinggal.Tradisi berupa arak-arakan ini seringkali kita jumpai di jalanan pulau Lombok terutama pada akhir pekan. (Sumber: Wikipedia)
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tidak lagi memegang kebudayaan leluhurnya. Seperti iringaan gendang beleq diganti dengan iringan musik kecimol dengan perpaduan dangdut dan musik tradisionalnya yang sering sekali membuat kegaduhan dalam barisan arak-arakan nyongkolan ini. apalagi dengan adanyaa joget(penari waanita)di barisan paling belakang tempat grup musik pengiring berada, menambah kegaduhan yang sangat bertentangan dengan budaya leluhur. Banyak sekali fenomena yang kita lihat saat ini, dimana budaya nyongkolan dijadikan ajang mabuk-mabukan, ajang memperlihatkan ilmu kebal dan tawuraan antar warganya yang tidak jarang berakhir dengan kematian.
Budaya ini sebenarnya sangat bagus, dengan tujuan yang jelas untuk mengenalkan pengantin kepada masyarakat agar dapat bersosialisasi dengan baik. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika nilai-nilai budaya nyongkolan yang sudah ada tidak dirubah. Dengan menerapkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan.

Komentar

  1. Bagus.
    Mari lestariKn budaya.
    Salam budaya

    BalasHapus
  2. Bagus.
    Mari lestariKn budaya.
    Salam budaya

    BalasHapus
  3. Ini pasti orang2 yang komen suruhan admin 😅

    BalasHapus
  4. Sangat membantu untuk pelestarian budaya.

    BalasHapus
  5. Mbak Penulisnya kapan merarik :D

    BalasHapus
  6. Merarik merarik 😂😂 jgn lupa komen balik

    BalasHapus
  7. Sangat membantu sekali, terimaksih atas tulisannya 😉

    BalasHapus
  8. Merarik batur silaq pade merarik, lamun wah mampu sik pade idap dirik 😂😂🎤🎵🎶

    BalasHapus

Posting Komentar